Minggu, 2007 Agustus 19

Lobster Black Tiger dari Papua

Ini video lobster papuaku (sering disebut dengan "Huna") lagi jalan. Ukuran videonya 1 Mb lebih. Sorry gak begitu bagus, soalnya gelap dan akuariumnya belum digosok kacanya.

Kamis, 2007 Agustus 09

Akhirnya bermata juga :)

Akhirnya setelah saya cek tadi pagi, ternyata telur2 lobsterku yang lagi gendong telur sudah pada bermata. Saya tadinya mau memfotonya, tapi takut mengganggu sang induk. Akhirnya saya hanya memfoto lobster jantan dan ikan sapu di atas. Sorry ya kalo fotonya agak buram.

Selama 22 hari terakhir ini, saya selalu mengecek pH air akuarium tiap hari. kalau di buku, pH ideal itu sekitar 7-8,5 tapi ternyata akuariumku pHnya sekitar 8,5-9. Ini artinya akuariumku amat basa. Saya bingung gimana caranya membuatnya asam. pH yang paling bagus itu ada pada akuarium satu. Ini wajar, mengingat akuariumnya memiliki filter yang besar dan kucuran air yang bagus. pHnya sekitar 8,5-8,6. Kemudian akuarium 4 dan 5 pHnya sering terlalu basa, sering mendekati 9. Namun setelah saya menggunakan motor filter tersendiri yang pendek (sesuai tinggi akuariumnya yang pendek), pHnya jadi lumayan bagus, 8,5-8,6. Kalau akuarium 5 yang ada lobster gendong telurnya, pHnya sekitar segitu juga, tapi biasanya lebih basa dikit.

Ternyata, air ledeng yang diendapkan sendiri pHnya tidak tetap. sekitar 8,5-8,8. Artinya nggak jauh beda dengan air di akuarium. Karena itu saya kadang lebih suka menambah air akuarium 4 dan 5 dengan air akuarium 1 daripada air di gentong, karena pHnya lebih bagus.

Faktor2 yang bisa membuat pH semakin basa antara lain tanaman dan tanah. Kalo kita menaruh tanaman air tanpa membersihkan akarnya lebih dahulu dari tanah, atau akarnya terlalu rimbun, maka itu cenderung membuat air makin basa. Tanah itulah yang menyebabkan basanya. Saya sendiri masih berpikir bagaimana cara menurunkan pH secara alami. Kalau mengganti air, sangat2 tidak boleh. Kita bisa menyaring air, namun jangan sekali2 mengganti air, sebab ini bisa membuat lobster stress. Tidak peduli walaupun airnya butek sekalipun. Air di akuarium adalah air yang terbaik. Kita harus bisa membersihkannya tanpa mengganti airnya.

Kamis, 2007 Juli 19

Ikan Sapu

Saya beli ikan sapu kemarin, dua ekor. Dinamai ikan sapu karena ikan ini suka memakani lumut yang ada di akuarium. Dia suka nempel di dinding akuarium, terutama di pojok-pojoknya, seperti lintah. Ukurannya lumayan besar juga. Bentuk dan warnanya juga bagus. Untuk mendapatkannya, pertama-tama saya pergi dulu ke toko akuarium dimana saya biasa beli ikan atau pakan disitu. Penjualnya menjual seekor ikan sapu seharga Rp 10.000 seekor, dan kemudian harganya dia turunkan menjadi Rp7500,-, dengan alasan saya langganannya dia. Namun karena nggak punya uang yang cukup, saya pun mencoba melihat-lihat tempat lain.

Di pinggir jalan Terusan Kiara Condong, saya menemukan ikan sapu dijual dengan harga Rp 2000,- seekor, jauh lebih murah! Jadi saya pilih beli disini saja dua ekor. Sebenarnya saya mau beli lebih banyak, namun kata penjualnya sudah tidak ada lagi. Padahal saya melihat ada beberapa ikan seperti ikan sapu juga nempel di dinding kaca. Harga ini kurang lebih sama dengan harga ikan guppy (walaupun harga ikan guppy bisa Rp8000 = Rp10000 seekor tergantung jenisnya). Dibanding ikan guppy yang kecil2 seperti ikan impun, ikan sapu ini jauh lebih besar, perbandingannya seperti orang dengan gajah! Lebih berguna pula.

Ikan sapu yang satu saya taruh di akuarium 2. Ternyata setelah saya cek tadi pagi, lumut2 di pompanya telah bersih. Wah kayaknya dia memang benar-benar bisa makan lumut. Namun akuarium ini sepertinya terlalu bersih untuk dia. Namun dia membuang kotoran banyak sekali semalam, entah apa sebabnya. Ikan sapu yang satunya lagi saya taruh di akuarium no 4, tempat dimana burayak terunggul saya ditaruh. tadinya saya takut kalau burayak saya dimakan sama ikan ini, mengingat perbandingan tubuh mereka seperti orang dengan gajah. Namun ternyata burayak saya masih hidup. Ikan ini memang biasanya diam, namun kata penjualnya, kalau ukurannya sudah besar, dia bakal jadi galak. Wah!!

Maaf saya belum bisa posting foto-fotonya. Tadi saya sudah motret tapi hasilnya tidak begitu bagus. Nanti kalau lumut2nya sudah habis, baru saya potret deh :D

Rabu, 2007 Juli 18

Akuarium di rumahku



Perkenalkan, nama saya Rafid. Di rumah, saya punya akuarium, yang diatas itu. Itu sebenarnya akuarium buat pembenihan lobster air tawar, namun mengingat pembenihannya tidak berjalan mulus, mungkin saya akan menggunakannya untuk keperluan lain. Mungkin dari luar nampak lumutan, namun itu ada alasannya. Alasan yang pertama, saya belum beli ikan sapu untuk memakani lumut2nya. yang kedua, kalau saya membersihkan lumut2 itu, saya harus banyak mengganti air dan mengobok2 akuarium. Lobster air tawar mudah stress bila parameter airnya berganti terlalu cepat.

Selama saya memelihara, sudah ada 2 lobster yang gendong telur dan berhasil beranak, tiap induknya beranak 150 ekor -an. Namun ternyata burayak (sebutan untuk anak2 lobster) nya banyak matian, malah sekarang hanya tersisa satu! So he/she is really the winner. Yang satu itu tinggal di akuarium sebelah kanan no 2 dari atas. Jadi satu akuarium itu hanya menampung satu lobster aja, dengan beberapa ikan guppy dan tanaman air kayabang.

Di bawahnya, ada seekor induk yang lagi gendong telur. terakhir dia stress, entah karena apa, sehingga satu kakinya copot. Saya hanya bisa berdoa supaya stressnya hilang, karena benar2 tidak tahu musti gimana. kalo dia mati sebelum anak2nya menetas, sayang sekali.

Di akuarium sebelah kiri di paling atas, ada 3 ekor lobster, 2 jantan dan satu betina. Mereka juga rada stress semenjak saya mengganti airnya terlalu banyak ketika membersihkan akuarium. Semenjak itu saya memutuskan untuk membiarkan bulukan. Paling saya hanya menyedot kotoran2nya saja dengan selang, itupun tidak sering2.

Karena kekurang profesionalan saya dalam ngurusin akuarium ini (terlalu rajin mungkin!) saya merasakan desakan hati untuk membeli pHmeter yang mahalnya nggak karu-karuan. Akhirnya kebeli juga, padahal gawat kalo ortu sampe tahu. Soalnya saya sudah bayak menghambur2kan uang untuk ngurusin lobster yang rada gagal ini. Namun ternyata menggunakannya asyik juga. Saya menemukan bahwa sebenarnya pH air ledeng di rumah kita sekitar 7,7, artinya basa. kalo air aqua, 7,2. Lumayan mendekati netral. Karena itu kalau saya mau membersihkan pHmeter untuk mengecek air di akuarium yang berbeda, saya menggunakan air aqua ini. Borju juga ya :( Ternyata pH di akuarium saya lebih basa dari air ledeng, berarti lebih besar dari 7,7. Berarti secara pH, air akuarium saya tidak ada masalah. Kalo gitu mustinya saya beli amoniak tester aja ketimbang pH tester ini. Namun setidaknya dengan membeli pH tester ini saya jadi tahu bahwa saya tidak memerlukan PH tester.